PAREPARE, DP3A — Praktik perkawinan anak atau pernikahan dini yang masih saja terjadi menjadi kewajiban
pemerintah untuk melakukan pencegahan. Hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya pemenuhan hak-hak anak.

Meski angka pernikahan dini terbilang masih rendah di Kota Parepare, namum harus dicegah. Di Kota Parepare, angka pernikahan mencapai 1.025 pasang selama tahun 2020. Sedangkan tahun 2021, mulai Januari hingga Mei, terdapat 487 pasangan pernikahan. Itu sudah termasuk adanya pernikahan dini, usia muda, dan dewasa.

Data tersebut berdasarkan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Parepare melalui Bimas Islam. Kasi Bimas Islam Kantor Kemenag Parepare, H Taufik Thahir melalui Staf Pengelola Data, Andi Arief Hidayat menjabarkan, data pernikahan, baik usia dini, usia muda dan dewasa dilakukan perbulan,
tidak pertahun.

“Untuk jumlahnya dari Januari hingga Mei ada 487 pasangan pernikahan. Pada Mei yang menikah, laki-laki usia dini dua orang, usia muda12 orang, dan dewasa 76 orang. Sedangkan, perempuan usia dini
ada sembilan orang, usia mudia 15 orang, dan dewasa 66 orang,” katanya, kemarin.

Menangani adanya pernikahan dini Puspaga Peduli Ta’ yang menjadi binaan TP PKK Kota Parepare yang diketuai Hj Erna Rasyid Taufan, masif melakukan konseling pra nikah dalam pencegahan pra nikah.

Konselor Puspaga Peduli Ta’ Parepare, Emilia Mustary mengatakan, salah satu faktor adanya pernikahan dini yakni kurangnya informasi tentang kehidupan keluarga. Seperti potensi masalah dalam berkeluarga, pemenuhan tanggung jawab. Sehingga kata dia, perlu diinformasikan lebih awal.

“Bisa jadi mereka yang memilih menikah di usia muda, tidak mempunyai pandangan, bahwa pernikahan itu ada konfliknya, ada tanggung jawab mendidik anaknya, menjadi istri, menjadi suami, mencari nafkah dan lain-lain. Menurut saya itu yang mereka tidak miliki,” terangnya.

Sehingga, di Puspaga Peduli Ta’ Kota Parepare, kata dia menyiapkan konselor pranikah. Memberikan pengertian tentang realita pernikahan, dan edukasi terkait kesehatan reproduksi mereka yang ingin menikah usia dini.

“Sosialisasi pernikahan pranikah di Puspaga. Jadi kita masifkan pernikahan konseling pranikah. Pranikah dipaparkan bahwa kondisi pernikahan seperti ini, jadi kamu bisa siap tidak tentang A B C, kalau belum siap pikirkan, termasuk kesehatan reproduksinya dll,” jelasnya.

Menurutnya, pernikahan umum bagi anak-anak melihat menikah itu karena cinta, sehingga pernikahan yang dipikirkan anak-anak sesuatu yang membahagiakan.

“Minimnya informasi tentang kehidupan berkeluarga, fakta realitasnya, pengaruh tayangan yang dilihat,” pungkasnya. (upi)